Rabu, 22 Maret 2017

Membaca Pemahaman Kreatif

MEMBACA PEMAHAMAN KREATIF
(MAKALAH)
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mengikuti Perkulihan Mata Kuliah Membaca







SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2015




KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT, yang telah memberikan kekuatan dan ketabahan bagi hamba-Nya. Serta memberi ilmu pengetahuan yang banyak agar kita tidakmerasa kesulitan. Shalawat serta salam tidak lupa kami sanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan wahyu kepada hamba-Nya yang setia sampai akhir zaman.
Makalah yang berjudul “Membaca Pemahaman Kreatif” ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Membaca. Dalam penyusunan makalah ini kami banyak mendapat bantuan dan sumbangan pemikiran, serta dorongan dari berbagai pihak tetapi tidak luput dari kendala yang begitu banyak.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama bagi kami, Aamin yarobbal’alamiin.

                                                                                    Pringsewu,   Desember 2015
Penyusun

Kelompok 8






DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I    PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
BAB II    PEMBAHASAN
A. Pengertian Membaca kreatif
B. Ciri-ciri Membaca Kreatif
C. Latihan-latihan Membaca Kreatif
D. Tujuan Membaca Kreatif
E. Manfaat Membaca Kreatif
BAB II    PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Istilah kreatif berarti tindak lanjut setelah seseorang melakukan kegiatan membacanya, jika seseorang membaca lalu berhenti pada saat setelah ia menutup bukunya, maka dirinya tidak dikatakan sebagai pembaca kreatif, sebaliknya jika membaca setelah dia melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi peningkatan kehidupan baru dia dikatakan sebagai pembaca yang kreatif (Nurhadi, 2004).
Dalam membaca kreatif, membaca dituntut mencermati ide-ide yang dikemukakan penulis, kemudian membanding-bandingkannya. Proses lebih penting dari kegiatan membaca kreatif itu tidak sekedar menganggap makna dan maksud bahan bacaan, tetapi juga menerapkan makna dan maksud bahan bacaan, tetapi bacaan di dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kualitas hidupnya. Pembaca juga diharapkan dapat melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi kepentingan kualitas hidupnya berdasarkan informasi dari bacaan dengan menerapkan informasi diharapkan. Kualitas hidup pembaca tidak akan terarah dan meningkat kalau ternyata begitu selesai pembaca tidak ada tindak lanjutnya, berarti ia bukan pembaca kreatif. Dalam hal ini, dalam diri seorang pembaca kreatif secara otomatis akan tampak sejumlah kamajuan, baik dalam hal kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dengan kata lain, tingkatan membaca kreatif lebih tinggi daripada membaca literal, interpretatif maupun kritis.
B.     Rumusan Masalah
1.      Mengetahui pengertian membaca pemahaman kreatif
2.      Mengetahui ciri-ciri membaca kreatif
3.      Mengetahui latihan-latihan membaca kreatif
4.       Mengetahui tujuan membaca kreatif
5.       Mengetahui manfaat membaca kreatif

C.     Tujuan Penulisan
1.      Agar dapat memahami membaca pemahaman kreatif
2.      Agar dapat memahami ciri-ciri membaca kreatif
3.       Agar dapat memahami latihan-latihan membaca kreatif
4.      Agar dapat memahami tujuan membaca kreatif
5.      Agar dapat memahami manfaat membaca kreatif
















BAB II
PEMBAHASAN

A   Pengertian Membaca Kreatif
Membaca kreatif yaitu proses membaca untuk mendapatkan nilai tambah dari pengetahuan yang terdapat dalam bacaan dengan cara mengidentifikasi ide-ide yang menonjol atau mengombinasikan pengetahuan yang sebelumnyapernah didapatkan. Dalam hal ini, setelah seorang pembaca menyelesaikan bacaannya ia tentu saja memiliki daya inisiatif dan kreatif untuk mengembangkan pemahaman membacanya dengan menghasilkan ide baru yang inovatif.
Istilah kreatif berarti tindak lanjut setelah seseorang melakukan kegiatan membacanya, jika seseorang membaca lalu berhenti pada saat setelah ia menutup bukunya, maka dirinya tidak dikatakan sebagai pembaca kreatif, sebaliknya jika membaca setelah dia melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi peningkatan kehidupan baru dia dikatakan sebagai pembaca yang kreatif (Nurhadi, 2004).
Pratiwi dan Subyantoro (2003) mengatakan bahwa membaca kreatif adalah tindakan tertinggi dari kemampuan membaca seseorang dan kemampuan membaca kreatif, artinya seseorang pembaca yang baik adalah membaca tidak hanya sekedar menangkap makna tersurat (reading the lines), tetapi juga mampu  secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kepentingan sehari-hari.
Unohamdi mengatakan bahwa membaca kreatif adalah kegiatan yang tidak hanya sekedar menangkap makna tersurat, makna antara baris tetapi juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk sehari-hari.
Dalam membaca kreatif, membaca dituntut mencermati ide-ide yang dikemukakan penulis, kemudian membanding-bandingkannya. Proses lebih penting dari kegiatan membaca kreatif itu tidak sekedar menganggap makna dan maksud bahan bacaan, tetapi juga menerapkan makna dan maksud bahan bacaan, tetapi bacaan di dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kualitas hidupnya. Pembaca juga diharapkan dapat melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi kepentingan kualitas hidupnya berdasarkan informasi dari bacaan dengan menerapkan informasi diharapkan.
Kualitas hidup pembaca tidak akan terarah dan meningkat kalau ternyata begitu selesai pembaca tidak ada tindak lanjutnya, berarti ia bukan pembaca kreatif. Dalam hal ini, dalam diri seorang pembaca kreatif secara otomatis akan tampak sejumlah kamajuan, baik dalam hal kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dengan kata lain, tingkatan membaca kreatif lebih tinggi daripada membaca literal, interpretatif maupun kritis.
Menurut burdansyah membaca kreatif adalah membaca yang tidak berhenti setelah bacaan atau buku tuntas dibaca, dan masih ada proses tindak lanjut yang tujuan akhirnya berupa peningkatan kualitas hidup dan tingkatan kulitas hidup yang paling bermakna dalam kegiatan membaca adalah membaca kreatif.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa membaca kreatif adalah sebuah proses membaca yang tidak hanya menangkap suatu makna, tetapi setelah kita membaca seorang harus dapat menerapkan dalam hal sehar-hari dan dapat mengombinasikan pengetahuan yang sebelumnya pernah didapatkan.
B. Ciri-ciri Membaca Kreatif
Menurut Nurhadi (2004), sebagai seorang pembaca kreatif harus dapat memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
1.      Kegiatan membaca tidak berhenti sampai pada saat menutup buku.
2.      Mampu menerapkan hasilnya untuk kepentingn hidup sehari-hari
3.       Munculnya perubahan sikap dan tingkah laku setelah proes membaca selesai.
4.       Hasil membaca berlaku sepanjang masa.
5.      Mampu menilai membaca secara kritis dan kreatif bahan-bahan bacaan.
6.      Mampu memecahkan masalah kehidupn sehari-hari berdasarkan hasil bacaan yang dibaca.
Menurut burdansyah, ada banyak hal yang akan terjadi pada seorang pembaca kreatif. Beberapa diantaranya adalah:
1.      Mampu memilih atau menentukan bahwa bacaan yang tepat sesuai dengan kebutuhan atau minatnya
2.      Tampak kemajuan dalam cara berpikir atau cara pandang terhadap suatu masalah
3.      Terbentuk kematangan dalam cara pandang, sikap, dan cara berpikir
4.      Tampak wawasan semakin jauh ke depan dan mampu membuat analisis sederhana terhadap suatu persoalan
5.      Ada peningkatan dan prestasi atau profesionalisme kerja
6.      Semakin berpikir praktis dan pragmatis dalam segala persoalan.
C. Latihan-latihan Membaca Kreatif
Membaca kreatif perlu diadakan latihan serangkaian keterampilan. Beberapa latihan tersebut adalah:
1.      Keterampilan mengikuti petunjuk dalam bacaan kemudian menerapkannya
2.      Ketampilan membuat resensi buku
3.       Keterampilan memecahkan masalah sehari-hari melalui teori yang disajikan dalam buku
4.      Keterampialan mengubah buku cerita prosa (cerpen, novel) menjadi bentuk naskah drama atau sandiwara
5.      Keterampilan mengubah buku cerita prosa
6.      Keterampilan mementaskan naskah drama yang telah dibaca
7.      Keterampilan mengubah bentuk puisi menjadi prosa (cerpen atau novel)
8.      Keterampilan melakukan teori celup, misalnya setelah membaca cerpen, pembaca akan membuat cerpen, dan lain-lain (Nurhadi, 2004)
Membaca kreatif dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
1.      Menarik kesimpulan dari fakta yang dibaca
2.      Melanjutkan pemikiran penulis
Membaca kreatif yang bertujuan membaca untuk memahami pikiran pengarang beberapa ketangkasan dan belajar (Nurhadi, 2004), yaitu:
1.      Melihat rencana pengarang
2.      Mengerti gagasan inti
3.      Mengerti fakta-fakta dan detail-detailyang penting
4.      Menghubung-hubungkan fakta-fakta dan merangkum apa yang dikatakan pengarang
5.      Mendapatkan kesan umum dari buku atau karangan
D. Tujuan Membaca Kreatif
Membaca kreatif bertujuan agar para siswa berkreasi dalam hal-hal dramatis, interpretasi lisan atau musik, narasi pribadi, ekspresi tulis, dan ekspresi visual
Menurut Tarigan (1994), membaca kreatif bertujuan sebagai berikut:
1. Dramatisasi
Butir pertama pada kegiatan membaca kreatif adalah dramatisasi. Pada tahap pertama para siswa dilatih memberikan ekspresi dramatik terhadap para tokoh serta ide-ide yang telah mereka temui dalam bacaan mereka. Keterampilan ini selanjutkan dikembangkan pada tahap kedua. Pada tahap ini siswa mendramatisasikan tema-tema dari sastra dalam kaitannya dengan pengalaman-pengalaman mereka sendiri atau situasi-situasi kontemporer. Pada tahap berikutnya, para siswa diberi kesempatan untuk menggunakan ironi, parodi, humor, dan aneka bentuk drama lainnya untuk mentransformasikan isi penggalan-penggalan sastra ke dalam berbagai macam ekspresi, dalam hati, atau sudut pandang. Sebagai suatu keseluruhan butir ini memberi kesempatan kepada para siswa untuk mempersonalisasikan serta memberi ekspresi dramatik bertahap apa yang telah mereka baca.


2. Interpretasi Lisan atau Musik
Pada tahap ini pertama dimulai dengan kegiatan-kegiatan yang menggunakan bacaan-bacaan koor/ bersama secara sederhana diikuti oleh musik yang serasi dengan bacaan itu sebagai sarana pembantu dalam menginterpretasikan sastra. Pada tahap ke dua para siswa dilatih untuk memperbandingkan serta mengontraskan aneka ragam penggalan sastra melalui penggunaan interpretasi-interpretasi lisan dan musik. Pada tahap berikutnya, keterampilan ini diperhalus lagi, diisi para siswa dilatih mengadakan eksperimen dengan penafsiran-penafsiran lisan dan musik untuk mengubah suasana hati atau nada sastra (Otto& Chester dalam Tarigan, 1994).
Agar para siswa dapat dilatih menginterpretasikan sepenggal bacaan sastra dengan tepat secara lisan dengan musik, maka para guru terlebih dahulu harus menguasai teori musik ala kadarnya, terutama sekali mengenai nada dan tempo.
Dari segi nada, maka pada umumnya musik dapat diklasifikasikan atas:
a. Musik atau lagu minor
b. Musik atau lagu mayor
ditinjau dari segi tempo, maka pada umumnya lagu atau musik dapat kita klasifikasikan atas:
a. Tempo lambat
b. Tempo sedang
c. Tempo cepat
Agar pelisan atau praktik vokal berhasil baik dalam menyajikan sebuah lagu atau membaca indah sepenggal karya sastra, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilatih dengan baik (Tarigan, 1994), yaitu:
a. Membaca notasi
Para siswa dilatih baik-baik agar dapat membaca notasi sesuatu lagu atau musik dengan tepat
b.Pernapasan dan sikap
Para siswa dilatih dan disadarkan bahwa pada saat menyampaikan sesuatu lagu atau melisankan suatu harga sastra, pernapasan dan sikap harus baik dan serasi
c. Pemenggalan kalimat atas frasa (pharasering)
Para siswa dilatih mengucap frasa-frasa yang tepat, sesuai dan serasi dengan pernapasan. Siswa yang dapat menentukan tempat mengambil napas dalam bernyanyi berarti siswa tersebut telah melihat dan menghayati frasa lagu tersebut.
c. Pengucapan
Sewaktu berbunyi, atau melisankan suatu karya sastra, ucapan harus tepat dan benar. Salah pengucapan suatu kata, frasa, atau kalimat dapat mengubah arti atau makna. Ucapan harus jelas. Dalam hal ini, terasa benar betapa pentingnya pengetahuan mengenai fonetik dan fonologi.
3. Narasi Pribadi
Butir ketiga dari pancauntai kegiatan membaca kreatif adalah narasi pribadi. Kegiatan ini terutama sekali berhubungan dengan pengisahan cerita atau storytelling. Pada tahap pertama para siswa diberi kesempatan untuk menciptakan dan menghubungkan cerita-cerita berdasarkan alur, gagasan, ide, peristiwa, atau tokoh-tokoh dari bacaan mereka. Pada tahap kedua, keterampilan itu selanjutnya dikembangkan dengan cara mendorong cerita-cerita berdasarkan pengalaman-pengalaman mereka, tetapi dirangsang oleh sesuatu yang berasal dari bacaan mereka. Kemudian, pada tahap berikutnya para siswa membaca cerita-cerita, lalu menghubung-hubungkannya setelah mengadakan perubahan-perubahan untuk mengubah beberapa aspek seperti suasana hati, nada, dan dampak cerita.
Dengan kegiatan ini para siswa dituntut banyak membaca cerita serta dapat menceritakannya kembali dengan kata-kata sendiri, dengan gaya bahasanya sendiri (Tarigan, 1984). Dengan cara ini para guru dapat meningkatkan apresiasi sastra dan juga memperkaya imajinasi para siswa. Agaknya tidaklah mustahil sama sekali bahwa dengan upaya dan bimbingan yang intensif dari pihak guru, bakat terpendam yang ada pada seorang siswa dapat tumbuh dengan subur serta membuahkan hasil yang menggembirakan dalam dunia karang-mengarang, khususnya dalam bidang narasi.
Kian banyak cerita yang dibaca oleh para siswa maka kian mantap pulalah pengertian serta pemahaman mereka mengenai bentuk dan isi fiksi. Berdasarkan bentuknya fiksi itu dapat kita bagi atas lima golongan, yaitu:
a. Novel (istilah kita roman, dari bahasa Belanda)
b. Noveltte (istilah kita novel, dari bahasa Belanda novelelleyang ada giliranya berasal dari bahasa Prancis nouvelle yang berarti hal yang baru)
c. Short story (cerita pendek)
d. short short story (dapat kita namakan cerita singkat)
e. Vignette (dinamakan begitu karena sangat singkat dan hanya memakan tempat sedikit, vignette (bahasa Prancis) berarti gambar kecil untuk hiasan yang dalam bentuk mula-mula berupa cabang pohon anggur) (Notosusanto, dalam Tarigan, 1994).
Walaupun dengan demikian ada pula yang membuatklasifikasi tersebut menjadi lebih sederhana lagi, yaitu atas tiga jenis:
a. Novel
b. Novelet
c. Cerita pendek
Di samping berdasarkan bentuknya, fiksi pun dapat kita klasifikasikan berdasarkan isinya. Klasifikasi berdasarkan isi ini hanyalah mungkin kalau kita telah membaca fiksi itu, yaitu kalau kita telah mengetahui apa isinya, apa maksud dan tujuannya. Berdasarkan isinya maka dapatlah kita bagi fiksi itu atas:
a. Impresionisme
b. Romantik
c. Realisme
d. Realisme sebenarnya
e. Naturalisme
f. Ekspresionisme
g. Simbolisme
4. Ekspresi Tulis
Butir keempat dari pancauntai kegitan membaca kreatif adalah ekspresi tulis. Kegiatan ini terutama sekali direncanakan untuk memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengekspresikan diri mereka dalam karya tulis. Pada tahap pertama, para siswa berlatih mempraktikkan ekspresi kreatif dengan cara menuliskan kembali cerita-cerita yang telah mereka baca. Para siswa didorong serta diujarkan untuk mengubah serta membentuk kembali peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh, suasana-suasana hati atau gagasan-gagasan yang diambil dari cerita-cerita aslinya, dan dengna demikian para siswa menciptakan versi mereka sendiri (Tarigan, 1994).
Pada tahap kedua, para siswa menulis cerita-cerita dan lakon-lakon asli yang menghubungkan beberapa aspek sastra dengan pengalaman-pengalaman pribadi atau situasi-situasi kontemporer.
Pada tahap ketiga, ketermpilan tersebut ditingkatkan sera diperhalus dengan upaya menyuruh serta mendorong para siswa menuliskan kembali pengalaman-pengalaman sastra pilihan dengan cara megubah aspek-aspek yang ada kaitannya dengan suasana hati, nada, gaya, mode, atau dampak cerita.
Dengan upaya yang telah disebut diatas kita berharap agar keterampilan para siswa berekspresi tulis dapat ditingkatkan, suatu keterampilan yang sangat bermanfaat dalam lingkungan sehari-hari dalam masyarakat.
Dari uraian sekilas tadi dapatlah kita pahami betapa eratnya hubungan antara membaca dan menulis. Kian banyak bahan yang kita baca maka kian banyak pula hal-hal yang dapat kita sampaikan, kita ekspresikan kepada orang lain, baik secara lisan maupun secara tulisan, dengan kata lain, dengan cara banyak membaca maka daya ekspresi kita, baik secara lisan maupun secara tulisan semakin meningkat (Tarigan, 1994).
5. Ekspresi Visual
Butir kelima dari untaian kegiatan membaca kreatif ini ekspresi visual. Kegiatan ini bermula pada tahap pertama dengan cara menampakkan kegiatan-kegiatan yang memberi kesempatan kepada para siswa untuk menciptakan suatu karya atau produk visual, seperti suatu gambar atau model tanah liat, yang menggambarkan suatu adegan, objek, tokoh, ataupun gaya yang berasal dari bacaan mereka.
Dalam kegiatan-kegiatan pada tahap kedua, para siswa menciptakan gambaran-gambaran visual yang menghubungkan beberapa aspek bacaan mereka dengan pengalaman-pengalaman pribadi ataupun dengan situasi-situasi kontemporer.
Pada tahap berikutnya, para siswa mengubah aspek-aspek bacaan mereka, misalnya suasana hati, mode, dan dampak melalui gambaran-gambaran visual. Dengan latihan yang intensif serta bimbingan yang baik dari pihak guru, maka keterampilan pada siswa untuk berekspresi visualdapat kita tingkatkan dalam membaca kreatif ini. Tanpa latihan yang intensif tidak dapat kita harapkan hasil yang memuaskan (Tarigan,1994).



6. Aneka Tujuan
Menurut Tarigan (1984) dengan kegiatan-kegiatan membaca kreatif ini ada beberapa tujuan yang hendak kita capai. Tujuan-tujuan ini terbagi atas tiga tingkatan, seperti tertera di bawah ini.
Tujuan Tingkat A-C (kelas 1-2 Sekolah Dasar) adala agar para siswa dapat:
a. Mendramatisasikan tokoh-tokoh, perasaan-perasaan dan gerakan-gerakan dari karya sastra yang dibacanya
b. Memberikan interpretasi-interpretasi lisan dan musik dari karya sastra yang dibacanya
c. Mengisahkan atau menuturkan cerita-cerita berdasarkan tokoh-tokoh atau tema-tem dari karya sastra yang dibacanya
d. Menulis (mendiktikan) cerita-cerita berdasarkan tokoh-tokoh atau tema-tema dari karya sastra yang dibacanya
e. Menciptakan gambaran visual dari suatu adegan, objek, tokoh, atau gagasan dari karya sastra yang dibacanya
Tujuan Tingkat D-E (kelas 3-4 Sekolah Dasar) adalah agar siswa dapat:
a. Mendramatisasi tema-tema dari karya sastra dalam hubungannya dengan pengalaman-pengalaman pribadi ataupun dengan situasi-situasi kontemporer
b. Menyajikan interpretasi-interpretasi lisan dan musik dari karya sastra yang dibacanya serta yang ada hubungnnya dengan itu
c. Menciptakan cerita-cerita asli mengenai pengalaman-pengalaman pribadi ataupun situasi-situasi kontemporer berdasarkan karya sastra
d. Menulis cerita-atau lakon-lakon yang menghubungkan beberapa aspek sastra dengan pengalaman-pengalaman pribadi ataupun situasi-situasi kontemporer
e. Menciptakan gambaran-gambaran visual yang menerapkan tema-tema tertentu dari karya sastra kepada pengalaman-pengalaman pribadi ataupun situasi-situasi kontemporer.
Tujuan Tingkat F-G (kelas 5-6 Sekolah Dasar) adalah agar para siswa dapat  mampu:
a. Memanfaatkan drama untuk mengubah isi sastra menjadi mode-mode, suasana-suasana hati, atau sudut-sudut pandangan yang berbeda
b. Mengubah mode, suasana hati, atau sudut pandangan sastra melalui interpretasi-interpretasi lisan dan musik
c. menciptakan cerita-cerita denga cara mentransformasikan atau mengubah mode, suasana hati, atau sudut pandangan karya sastra yang dibacanya
d. Menuliskan kembali sepenggal karya sastra dengan mengubah mode, suasana hati, atau sudut pandangan seperlunya
e. Menciptakan gambaran visual beberapa aspek sastra yang dibacanya yang mengubanya menjadi mode, suasana hati, atau sudut pandangan yang berbeda dari yang semula (Otto & Chester, 1976:167 dalam Tarigan, 1994).
E. Manfaat Membaca Kreatif
Menurut Burdansyah,membaca kreatif akan memberikan banyak manfaat dalam berbagai bidang. Misalnya, wacana tentang siraman rohani, pemikiran para budayawan, informasi cara merawat kesehatan tubuh, informasi tentang cara membuat makanan atau barang. Ada juga yang memberikan informasi soal cara memanfaatkan lahan milik kita, misalnya membudidayakan tanaman hias, tanaman obat, dan lain-lain. Apabila anda tertarik untuk memelihara ternak atau tanaman, dari bukupun anda dapat belajar cara merawatnya, memilih pupuk atau pakan yang diperlukan, dan sebagainya. Pilihan lain untuk menambah pengetahuan antara lain, cara membuat bangunan dan menata ruangan secara artistik, termasuk cara merenovasi suatu bangunan agar terkesan lebih nyaman dan indah.
Contoh konkret dari membaca kreatif adalah seorang mahasiswa/pembaca saat membaca sebuah buku tidak akan berhenti di situ aja, tetapi ia selalu mencatat sesuatu yang dianggap penting, menandai sesuatu yang dianggap sulit/asing, dan selalu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari serta meningkatkan bacaannya.
Pada dasarnya seorang pembaca dituntut untuk mampu membaca kreatf. Membaca pada tingakat ini adalah membaca tingkat tinggi karena untuk membaca kreatif si pembaca harus memahami terlebih dahulu beberapa tingkat sebelumnya. Dalam hal ini, si pembaca yang mampu memahami isi bacaan secara literal, interpretatif, dan kritis, maka barulah ia dapat masuk ke dalam membaca kreatif. Disini seorang pembaca kreatif tidak akan berhenti melakukan ativitas setelah ia selesai membaca. Ia tidaklah serta merta mengakhiri kegiatan membacanya, melainkan ia melakukan eksperimen terhadap apa yang dibacanya dan bahkan ia pun dapat membuat tulisan dari hasil membacanya. Intinya oarang yang membaca kreatif, ia tidak tinggal diam setelah selesai memaca. Ia akan kreatif melakukan berbagai tindakan atas hasil membacanya baik secara lisan, tulisan, maupun perbuatan.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Membaca kreatif yaitu proses membaca untuk mendapatkan nilai tambah dari pengetahuan yang terdapat dalam bacaan dengan cara mengidentifikasi ide-ide yang menonjol atau mengombinasikan pegetahuan yang sebelumnyapernah didapatkan. Dalam hal ini, setelah seorang pembaca menyelesaikan bacaannya ia tentu saja memiliki daya inisiatif dan kreatif untuk mengembangkan pemahaman membacanya dengan menghasilkan ide baru yang inovatif.
Dalam membaca kreatif, membaca dituntut mencermati ide-ide yang dikemukakan penulis, kemudian membanding-bandingkannya. Proses lebih penting dari kegiatan membaca kreatif itu tidak sekedar menganggap makna dan maksud bahan bacaan, tetapi juga menerapkan makna dan maksud bahan bacaan, tetapi bacaan di dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kualitas hidupnya. Pembaca juga diharapkan dapat melakukan aktivtas yang bermanfaat bagi kepentingan kualitas hidupnya berdasarkan informasi dari bacaan dengan menerapkan informasi diharapkan.
B. Saran
Mengharapkan setiap pihak yang terlibat dalam pendidikan agar lebih berperan aktif dalam pendidikan, agar jala menuju pendidikan yang dicita-citakan dapat segera terwujud. Dan berusaha memulai hal-hal positif yang dapat membantu proses pendidikan sedini mungkin atau secepat mungkin. Serta pendidikan jangan dianggap sesuatu hal yang sepele tapi jadikanlah pedidikann tu sebagai kewajiban kita sebagai anak bangsa yang harus kita laksanakan.


DAFTAR PUSTAKA

Nurhadi. 2004. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Pratiwi, dan Subyantoro. 2003. Membaca II. Jakarta Universitas Terbuka.
Tarigan, H.G. 1982. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: IKIP-STIA


Membaca Paragraf, novel, berita, buku dan surat kabar


MEMBACA PARAGRAF, NOVEL, BERITA,
BUKU, DAN SURAT KABAR

MAKALAH







SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
TAHUN 2015


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan dan ketabahan bagi hamba-Nya. Serta memberi ilmu pengetahuan yang banyak agar kita tidak merasa kesulitan. Shalawat serta salam tidak lupa penulis sanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan wahyu kepada hamba-Nya yang setia sampai akhir zaman.

Dalam penyusunan makalah yang berjudul “Membaca Paragraf, Novel, Berita, Buku, dan Surat Kabar” ini penulis banyak mendapat bantuan dan sumbangan pemikiran, serta dorongan dari berbagai pihak, tetapi tidak luput dari kendala yang begitu banyak.

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama bagi penulis. Amin.


                                                                                                            Pringsewu,   Desember 2015



                                                                                      Penulis









DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………...                  i
DAFTAR ISI…………………………………………………………..                   ii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………..                  1
A. Latar Belakang……………………………………………………...        1
B. Rumusan Masalah…………………………………………………...       1
C. Tujuan Penulisan……………………………………………………        1
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………...                   2
A. Hakikat Membaca……………………………………....………...…                   2
B. Tujuan Membaca………..……………………………………….….        2
C. Fungsi Membaca………………………..…………………………...       4
D. Jenis-Jenis Membaca….…………………………………………….        5
BAB III KESIMPULAN……………………………………………...                  15
A. Kesimpulan………………………………………………………….       15
B. Saran………………………………………………………………...       15
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………      16














BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

            Membaca penting dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, setiap aspek kehidupan melibatkan kegiatan membaca.
            Membaca merupakan tonggak belajar yang akan berlangsung seumur hidup. Karena itu, boleh jadi keterampilan membaca adalah kunci sukses  dalam pendidikan dan kehidupan yang lebih luas.
            Kemampuan membaca tidak muncul dengan sendirinya pada diri kita.Kemampuan itu dibentuk melaui latihan. Dibutuhkan cara yang tepat untuk kegiatan belajar membaca. Diperlukan stimulasi yang tepat agar mampu menangkap pesan-pesan atau  tujuan dari membaca itu sendiri.

B. Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan hakikat membaca?
2.      Apa tujuan  membaca?
3.      Apa fungsi  membaca?
4.      Bagaimana jenis-jenis membaca?

C.    Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui hakikat membaca.
2.      Untuk mengetahui tujuan membaca.
3.      Untuk mengetahui fungsi membaca.
4.      Untuk mengetahui jenis-jenis membaca.




BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Membaca

            Membaca merupakan aktivitas atau proses penangkapan dan pemahaman sejumlah pesan (informasi) dalam bentuk tulisan. Membaca adalah kegiatan otak untuk mencerna dan memahami serta memaknai simbol-simbol sehingga merangsang otak untuk melakukan olah fikir  memahami makna yang  terkandung dalam rangkaian simbol-simbol tersebut.
            Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis.(H.G Taringan, 1985:7).
Dengan demikian membaca merupakan kegiatan yang penting bagi seseorang yang ingin meningkatkan diri untuk  memperluas wawasannya.

B.    Tujuan Membaca

            Tentang tujuan membaca ini banyak rumusan yang bisa dibuat, tergantung dari mana kita melihatnya.Secara garis besar tujuan membaca itu luas sifatnya karena setiap situasi membaca mempunyai tujuan tersendiri yang bersifat spesifik. Kita ambil contoh : Si Ali membuka-buka halaman terakhir  sebuah koran Ibu Kota yang berisi lowongan pekerjaan. Ia membaca dengan tujuan untuk mendapat informasi lowongan pekerjaan diperusahaan elektronika, sesuai dengan keahliannya sebagai ahli bongkar pasang alat-alat listrik. Ayahnya, pak Broto, diteras dengan seksama mengamati perkembangan terakhir pergolakan di Timur Tengah. Beliau ingin mengetahui keputusan apa yang akan dibuat presiden Amerika Serikat setelah mengetahui kegagalan-kegagalan beruntun pertemuan para pemimpin Arab sebelumnya. Sedangkan ibunya, menunggu sang ayah membaca, untuk melihat menu masakan baru yang disajikan hari ini. Ia ingin menerapakan resep masakan yang dimuat dalam edisi hari ini.
Contoh di atas menggambarkan adanya bermacam-macam tujuan membaca untuk setiap individu, sesuai dengan kepentingan-kepentingannya masing-masing. Namun, secara umum ada penggolongan tujuan membaca ini. Sebagai contoh, seperti yang dikemukakan oleh ahli membaca Waples (1967) berikut ini. Dalam eksperimennya ia menemukan bahwa tujuan membaca itu meliputi :
a.       Mendapat alat tertentu (Instrumental effect), yaitu membaca untuk tujuan memperoleh sesuatu yang bersifat praktis, misalnya cara membuat masakan, cara membuat bola , dan sebagainya.
b.      Mendapat hasil yang berupa prestise(prestifge effect), yaitu membaca dengan tujuan ingin mendapat rasa lebih(self image) dibandingkan orang lain dalam lingkungan pergaulannya. Misalnya, seseorang akan merasa lebih bergengsi bila bacaannya majalah-majalah yang terbit diluar negeri.
c.       Memperkuat  nilai-nilai pribadi atau keyakinan, misalnya membaca untuk mendapat kekuatan keyakinan pada partai politik yang kita anut, memperkuat keyakinan agama, mendapat nilai-nilai baru dari sebuah buku filsafat, dan sebgainya.
d.      Mengganti pengalaman estetik yang sudah usang, misalnya membaca untuk tujuan mendapat sensai-sensai baru melalui penikmatan emosional bahan bacaan (buku cerita, novel, roman, biografi, dan sebagainya).
e.       Membaca untuk menghindarkan diri dari kesulitan, ketakutan, atau penyakit tertentu.
            Seperti yang telah dikemukakan diatas, pada hakikatnya tujuan membaca adalah modal utama membaca. Tujuan yang jelas akan memberikan motivasi intrinsic yang besar bagi seseorang. Seseorang yang sadar sepenuhnya akan tujuan membacanya akan dapat mengarahkan sasaran daya pikir kritisnya dalam mengolah bahan bacaan sehingga memperoleh kepuasan dalam membaca.





C. Fungsi Membaca

            Kemampuan membaca merupakan kemampuan dasar, karena hampir semua kemampuan untuk mendapatkan informasi bergantung pada kemampuan tersebut. Kegiatan membaca mempunyai manfaat sebagai berikut:
1.      Fungsi intelektual
Dengan banyak membaca kita dapat meningkatkan kadar intelektualitas, membina daya nalar kita. Contoh : membaca buku-buku pelajaran, karya ilmiah, tesis, skrifsi , dll. (Amir, 1996:4)
2.      Fungsi pemacu kreatifitas
Hasil membaca kita dapat mendorong, menggerakan diri kita untuk berkarya, didukung oleh keluasan wawasan dan pemilihan kosa kata.Contoh buku ilmiah, bacaan sastra.
3.      Fungsi praktis
Kegiatan membaca dilaksanakan untuk memperoleh pengetahuan praktis dalam kehidupan, misal : teknik memotret, cara merawat tanaman, resep membuat masakan dan minuman, dll.
4.      Fungsi religious
Membaca dapat digunakan untuk membina dan meningkatkan keimanan, memperluas budi, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
5.      Fungsi informative
Dengan banyak membaca bacaan, informasi lebih cepat kita dapatkan. Contoh : dengan membaca majalah dan Koran dapat kita peroleh berbagai informasi yang sangat penting atau kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari.
6.      Fungsi Rekreatif
Membaca digunakan sebagai upaya menghibur diri, mengadakan tamasya yang mengasyikan.Contoh : novel-novel, cerita humor, karya sastra, dll.
7.      Fungsi Sosial
Kegiatan membaca mempuyai fungsi sosial yang tinggi manakala dilaksanakan secara lisan atau nyaring. Dengan demikian, kegiatan membaca tersebut langsung dapat dimanfaatkan oleh orang lain mengarahkan sikap berucap, berbuat dan befikir. Contoh : pembacaan berita, pengumuman, dll.
8.      Fungsi pembunuh sepi
Kegiatan membaca dapat juga dilakukan untuk sekedar merintang-rintang waktu, mengisi waktu luang.Contoh : membaca majalah, surat kabar, dll.(Amir, 1996:5)

D. Jenis-Jenis Membaca

Jenis-jenis membaca diantaranya:

1. Membaca Nyaring

            Yaitu suatu kegiatan membaca, yang merupakan alat bagi pembaca, bersama orang lain, untuk menanggap isi yang berupa informasi, pikiran, dan perasaan seorang pengarang. Dengan kata lain, membaca nyaring adalah: proses melisankan dengan menggunakan suara, intonasi, tekanan secara tepat , serta pemahaman makna bacaan oleh pembaca.
            Manfaat membaca nyaring antara lain :Bisa memperoleh kesenangan dan memupuk keyakinan atau percaya diri,bisa menanamkan disiplin,bisa memperkaya daya khayal apabila dilakukan dalam membaca fiksi.Bisa mempertinggi pemahaman mengenai makna bacaan.

2. Membaca Dalam Hati

            Yaitu kegiatan membaca yang hanya menghandalkan kemampuan fisual, pemahaman, serta ingatan dalam menghadapi bacaan tanpa mengeluarkan suara atau menggerak, gerakkan bibir.




3. Membaca Skimming, Skaning Atau Memindai

            Yaitu membaca dengan cepat suatu bahan bacaan untuk mendapatkan kesan awal atau untuk menemukan suatu informasi yang kita cari, yang ada dalam bacaan. Membaca skimming adalah: Membaca untuk memperoleh kesan umum. Membaca skaning adalah : Membaca dengan tujuan untuk mendapatkan informasi khusus saja.

4. Membaca Intensif

            Yaitu kegiatan membaca sebuah bacaan secara telitih, dengan tujuan memahami secara rinci. Menurut H.G Tarigan Membaca intensif ialah : membaca yang dilakukan secara seksama dan merupakan suatu upaya untuk mengasah kemampuan membaca secara kritis. Menurut Brook Membaca intensif ialah telaah terinci secara pemahaman terinci terhadap suatu bacaan.Jadi, Membaca intenif ialah kegiatan membaca yang dilakukan dengan penuh seksama terhadap bahan bacaan sehingga timbul pemahaman yang tinggi.
5. Membaca Telaah Isi

            Yaitu membacayang dilakukan untuk menelaah isi bacaan. Membaca telitih atau pemahaman ialah kegiatan membaca yang bertujuan untuk memperoleh pengertian atau memahami bahan bacaan secara cepat dan tepat.
            Dalam membaca pemahaman ada beberapa aspek yang diperlukan:
•     Seorang pembaca harus mempunyai kosa kata yang banyak.
•     Memiliki kemampuan menafsirkan makna kata
•     Memiliki kemampuan ide pokok
•     Memiliki kemampuan menangkap urutan peristiwa.




6. Membaca Kritis

            Yaitu kegiatan membaca yang dilakukan secara bijaksana, mendalam efektif, analisis, dan bukan ingin mencari kesalahan penulis.Dalam membaca kritis diperlukan kemampuan berfikir bersikap kritis dalam mengolah bahan bacaan. Kemampuan berfikir dan bersikap kritis meliputi :
a)      Kemampuan mengingat dan mengenali bahan bacaan.,kemampuan mengenali tokoh, bisa mengenali opini dan fakta, bisa membedakan antara fakta dan opini.
b)      Kemampuan menginterpretasi makna yang tersirat, mengenali, menafsirkan ide pokok , memahami secara kritis hubungan sebab akibat
c)      Kemampuan mengaplikasi konsep,ditandai dengan membaca petunjuk ,menerapkan konsep bacaan dalam situasi baru.
d)     Kemampuan menganalisis, menganalisis alur cerita, mengklasifikasikan fakta atau detail penunjang.
e)      Kemampuan membuat sintesis,menarik simpulan, menentukan tema bacaan  membuat singkatan.
f)       Kemampuan menilai isi bacaan, menilai sebuah bacaan diangkat dari realitas atau imajinasi pengarang, Menilai suatu pernyataan itu opini atau fakta.

7. Membaca Cepat

            Yaitu kegiatan membaca yang dilakukan secara cepat, disertai dengan pemahaman terhadap isi bacaan. Kecepatan membaca bisa disebut kemampuan membaca .Kemampuan membaca ialah kecepatan yang dicapai pembaca berdasarkan rumus jumlah banyaknya kata dibagi dengan waktu yang diperlukan dikalikan dengan jumlah detik dalam 1 menit . Rumus Membaca Efisien ialah: pembaca yang mempunyai kecepatan membaca sesuai dengan bahan bacaan yang dihadapi dengan tujuan membacanya.



8. Membaca Paragraf

            Yaitu satuan pengembangan terkecil, dari suatu karangan . Dalam paragrap mesti mengandung pikiran pokok atau gagasan utama  dijabarkan oleh kalimat penjelas.
§  Kalimat-kalimat yang membentuk satu paragrap itu dibagi menjadi 2: kalimat topik dan kalimat penjelas. Kalimat topik ialah : kalimat yang mengandung pikiran pokok paragrap. Cara-cara meletakkan kalimat topic : 1) diawal paragraf 2) diakhir paragraf 3) diawal dan akhir paragraph
§  Cara -cara membaca paragraf atau kalimat topic : 1) dengan cara skimming dan skaning 2) informasi focus, mencari ide pokok (paragraf), mencari kata kunci (kalimat ).
§  Starat paragraf : a) kesatuan b) koherensi c) penghubung paragraf metode pengembangan paragrap : 1. Umum khusus 2. Khusus umum 3. Klimaks 4. anti klimaks 5. Perbandingan 6. Analogi 7. Sebab akibat 8. Sudut pandang 9. definisi 10. Klasifikasi 11. Contoh 12. Proses.
9. Membaca Artikel

            Yaitu artikel bisa berupa opini , bisa berupa hal yang baru diperbincangkan, headline news, berupa argumentasi.
a.       Pendahuluan, latar belakang dan alasan mengapa artikel itu dibuat
b.      Batang tubuh, isi dari artikel
c.       Penutup, berupa rangkuman apa-apa yang dikemukakan, disamping itu juga memuat kesimpulan umum beserta aplikasi atau prediksi yang berkenaan dengan kesimpulan itu.
Memahami Artikel yaitu menemukan pkiran pokok dengan :membaca judul dan pendahuluan dengan teliti . Cari pikiran pokok yang diuraikan dalam batang tubuh artikel. Membaca paragrafsama dengan membaca artikel yang menggunakan kegiatan membaca kritis.


10. Membaca Novel

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik (Tarigan, 1979: 7).
Sedangkan novel ialah tulisan berupa karangan prosa yang panjang dan menceritakan sebuah kisah (Windy Novia 2010, 326). Jadi, pada dasarnya novel adalah suatu kegiatan atau proses untuk menangkap pesan dan kisah yang terjadi dalam novel.
Membaca novel dapat dilakukan dengan langkah berikut. Pertama, memlih novel yang akan dibaca. Novel yang dipilih adalah novel yang menyuarakan ide-ide. Langkah berikutnya adalah membaca novel yang telah dipilih tesebut dengan cermat, dibuatkan sinopsisnya, kemudian dipahami isinya dari unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Dari pemahaman unsur intrinsiknya dan ekstrinsik inilah akhirnya ditemukan dan dikupas pola-pola bahasa yang menyuarakan ide-ide. (Endah Tri Priyatni 2010 : 163)
            Menurut Harjashujana, manfaat membaca novel ada 3, yaitu :
1.      Kinerja Otak Meningkat dengan Membaca Novel
Otak yang selalu dipakai untuk membaca, berfikir dan juga bekerja untuk menghayati setiap bait-bait cerita yang ada di novel . Sel-sel dalam otak yang memiliki tugas mengirimkan sinyal akan bekerja dengan lebih aktif dan baik hingga membuat otak berfikir menjadi lebih cepat serta meningkatkan kepekaan dan kreatifitas.
2.      Membaca Novel dapat Membuat Lebih Tenang dan Rileks
Manfaat yang kedua yaitu membaca novel dapat membuat lebih rileks, dengan membaca novel  dapat menjauhkan anda dari stress. Itu dikarenakan, anda dapat meupakan segala macam masalah karena terbawa dengan alur cerita novel yang asik. Tetapi untuk benar-benar menjadi rileks, hindari sikap duduk yang salah dalam membaca. Jangan membaca sambil berbaring.
3.      Membaca Novel Mendapat Pelajaran Tentang Hidup
Novel memang penuh dengan drama dan ada banyak macamnya. Dalam novel ada banyak kejadian yang kisahkan. Dari peristiwa-peristiwa dalam novel baik suka atau pun duka akan  memberikan pelajaran kepada pembaca tentang hidup.

11. Membaca Berita

Membaca berita adalah menyampaikan sebuah berita atau informasi dengan cara membaca teks berita dengan intonasi, lafal, dan sikap yang benar. Naskah berita yang disampaikan melalui media televisi atau radio berbeda dengan naskah berita dalam media cetak atau yang berupa tulisan biasa. Semua kalimat yang digunakan dalam teks berita tersebut merupakan kalimat tidak langsung dan lebih pendek karena durasi yang disediakan juga terbatas.
Teknik-teknik dalam membaca teks berita tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Artikulasi atau pelafalan
Artikulasi merupakan perubahan rongga dan ruang di dalam saluran suara dengan tujuan untuk menghasilkan bunyi bahasa. Dalam membacakan teks berita, artikulasi atau pelafalan yang digunakan harus jelas agar informasi yang disampaikan juga terdengar dengan jelas.
2.      Intonasi
Intonasi merupakan hal yang berhubungan dengan naik turunnya suara atau adanya penekanan dalam suara. Intonasi yang digunakan harus tepat sesuai dengan kalimat berita yang disampaikan. Misalnya untuk kalimat perintah diucapkan dengan menggunakan intonasi naik di seluruh bagian kalimatnya, untuk kalimat tanya diucapkan dengan menggunakan intonasi naik pada bagian akhir kalimat, dan pada umumnya kalimat berita diucapkan dengan intonasi menurun di akhir kalimat.


3.      Penjedaan
Penjedaan merupakan kegiatan berhenti sejenak untuk mengatur napas saat membaca teks berita. Kegiatan berhenti sejenak atau pemberhentian sejenak tersebut tidak bisa dilakukan di sembarangan tempat atau bagian kalimat, ada bagian-bagian tertentu dalam kalimat yang bisa dilakukan penjedaan.
4.      Sikap atau gestur
Membaca teks berita tidak hanya membahas tentang cara pembaca membacakan teks berita, tetapi juga bagaimana sikap tubuh atau gestur pada saat membacakan teks berita. Pembaca berita harus duduk dengan tegak dan pandangan fokus ke depan. Sesekali menunduk diperbolehkan untuk melihat teks berita, tetapi tidak boleh terlalu lama, sekitar 3 detik saja.
5.      Memahami isi teks berita
Seorang pembaca berita harus memahami isi dari teks berita dengan baik dan menyeluruh. Sebelum proses membaca berita, sebaiknya pembaca sudah mempelajari isi teks berita tersebut dengan baik.
6.      Memperhatikan volume suara dan faktor pendukung lainnya
Volume suara dalam membaca teks berita harus diatur dengan baik sehingga bisa jelas terdengar. Pembaca teks berita juga harus memerhatikan faktor pendukung lainnya dalam membaca teks berita. Hal tersebut di antaranya adalah busana dan riasan yang dikenakan, khususnya untuk pembaca berita televisi atau yang berhadapan langsung dengan pendengar, penggunaan peralatan dengan teknologi tinggi, dan lain-lain.

12. Membaca Buku

Kenyataan sehari-hari menunjukan bahwa untuk tujuan tertentu, kita perlu menggunakan kemampuan membaca cepat untuk mengambil makna bahan bacaan secara efektif dan efisien. Ambilah contoh ketika kita dihadapkan pada sebuah buku menarik disebuah toko buku, sementara waktu yang tersedia terbatas, serta kantung tidak memungkinkan membeli buku tersebut. Untuk mengetahui keseluruhan isi buku secara cepat semacam ini kita perlu teknik tertentu dalam membaca cepat. Atau misalnya bila kita menghadapi ujian sekolah. Buku dimeja menggunung, sementara waktu yang ada hanya semalam. Maka dengan terpaksa kita harus membaca buku tersebut dengan cepat.
Persoalannya sekarang ialah bagaimana cara meningkatkan kecepatan membaca yang kita miliki hingga sampai pada taraf yang efektif. Ada beberapa metode yang pernah dikembangkan untuk meningkatkan hal ini dan kita kembangkan dengan sejumlah latihan. Beberapa metode yang dianggap efektif dalam meningkatkan kecepatan membaca adalah:
a.       Metode kosakata
b.      Metode motifasi (minat)
c.       Metode bantuan alat
d.      Metode gerak mata.
Untuk membaca buku dengan cepat, kita dapat mengunakan teknik membaca skiming dan skaning. Dalam kenyataan sehari-hari sering kita menjumpai hal-hal semacam ini. Seseorang sedang membaca buku. Buku tersebut dibacanya kata demi kata dan baris demi baris. Apa yang tertulis lalu diingatnya sebagai sebuah ingatan. Informasi yang tertulis dalam bacaan disimpan dalam ingatan, lalu ditanyakan kembali bila perlu, presis dengan apa yang dikatakan pengarangnya. Dengan kata lain, setelah selesai membaca, ia mampu menyatakan kembali secar tepat jawaban pertanyaan-pertanyaan: apa, siapa, kapan, di mana, dan bagaimana, sepeti dalam buku.
Menurutnya membaca identik  denagan mengingat. Proses membaca dipandang sebagai usaha memasukan informasi yang tertangkap  dari bacaan kedalam ingatan. Yang dimaksud denganinformasi ini tentu saja makna yang tersurat dalam bacaan atau apa yang tertulis dalam buku secara eksplisit. Pembaca tingkat ini telah merasa puas dalam membaca bila ia mampu mengingat sebanyak-banyaknya informasi yang tercetak.
Oleh karena pembaca hanya berusaha mengingat, maka dalam prosesnya dia tidak melibatkan aspek berpikir kritis. Penggalian makna hanya  hanya terbatas pada hal-hal yang secara eksplisit tertulis dalam bacaan. Pembaca hanya tahu apa yang dikatakan pengarangnya, dan tidak ada satupun aktivitas mental berpikir yang mengikutinya (reaksi pasif). Pembaca hanya memproduksikan kembali secara mentah apa yang ditulid pengarang.
13. Membaca Surat Kabar

Membaca surat kabar, majalah, dan komputer menyita 50 hingga 60% waktu membaca kita. Ketiganya memang merupakan jendela untuk mengetahui dunia dan kecenderungan ke semua bidang. Dengan mengetahui sifat-sifat dasar dari ketiganya maka kita akan mengetahui cara baru dalam membaca lebih cepat.

Surat kabar, terutama bagian berita-beritanya, sedikit memuat analisis dan komentar. Namun, sebenarnya di balik itu, masih ada bias dari wartawan, penulis berita, editor, serta "policy" dari pemegang modalnya. Hal ini terbukti kalau kita membaca suatu kejadian di mana kita juga terlibat. Berita yang ditulis kadang sangat jauh dari fakta yang sesungguhnya.
Seiring dengan kemajuan internet dan televisi, maka surat kabar lebih banyak menyajikan ringkasan dengan komentar. Dan warna dari surat kabar masing-masing sangat jelas, untuk berita-berita tertentu yang cukup peka.
Berikut adalah cara-cara untuk membaca surat kabar dengan cepat.
a.       Pertama, kenali organisasi dan tata letaknya. Banyak orang yang membaca surat kabar berjam-jam dari depan ke belakang, tapi begitu selesai ditutup seperti tidak mendapatkan manfaat apapun.
b.      Cara terbaik adalah dengan melakukan "preview" terlebih dahulu. Layangkan pandangan ke seluruh penampang halaman. Sapu judul-judulnya, pilih artikel yang akan Anda baca secara lebih saksama. Misalnya, membaca Kompas yang rata-rata seharinya memiliki 52 halaman, maka kita lihat dulu sekilas halaman depan untuk mengetahui "headlines"-nya. Baca juga indeks atau ringkasan dari masing-masing yang ada di bundel. Ini membantu untuk memenuhi kebutuhan kita, apa yang perlu kita ketahui, atau paling tidak untuk mengetahui pokok-pokoknya secara sekilas.
c.       Baca paragraf yang memuat tujuan atau inti dari berita yang ditulis, biasanya langsung di bawah judul atau subjudul. Kalau sudah mendapatkan inti berita, pindah ke berita lain. Berita-berita ulangan tidak perlu dibaca.
d.      Frasa-frasa yang sudah diketahui tidak usah dibaca, misalnya, "Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menjadi pengganti Megawati mengatakan ...." Baca langsung apa yang dikatakan.
e.       Lakukan "skimming" dan "scanning" artikel yang merupakan bidang perhatian Anda. Dapatkan petunjuk dari skimming dan scanning itu kalau perlu, baru Anda membaca secara keseluruhan.
f.       Baca tajuk rencana dengan cerdas. Paragraf pertama dan kedua biasanya berisi tentang apa yang akan dikomentari. Tatap sebentar, kalau Anda sudah paham apa yang akan dikomentari, lewati. Kemudian baca langsung kedua paragraf terakhir, ini merupakan komentar, opini, kesimpulan dari tajuk itu. Sedang bagian isi (tengah, merupakan analisanya, kalau merasa perlu, baru dibaca).
g.      Lembaran-lembaran lain cukup Anda buka hanya untuk mengetahui kalau-kalau ada yang memang patut dibaca.
h.      Membaca surat kabar cukup 15 menit, meski hari ini ada 52 halaman.





BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Membaca merupakan aktivitas atau proses penangkapan dan pemahaman sejumlah pesan (informasi) dalam bentuk tulisan. Membaca adalah kegiatan otak untuk mencerna dan memahami serta memaknai simbol-simbol sehingga merangsang otak untuk melakukan olah fikir  memahami makna yang  terkandung dalam rangkaian simbol-simbol tersebut.
            Adapun tujuan dari membaca secara umum adalah pembaca akan dapat mengarahkan sasaran daya pikir kritisnya dalam mengolah bahan bacaan sehingga memperoleh kepuasan dalam membaca.
            Fungsi membaca di antaranya adalah menggali informasi, mempelajari ilmu pengetahuan, memperkaya pengalaman, mengembangkan wawasan, dan mempelajari segala sesuatu.
            Jenis-jenis membaca di antaranya membaca nyaring, membaca dalam hati, membaca memindai, membaca intensif, membaca telaah isi, membaca kritis, membaca cepat, membaca paragraf.
  
B. Saran

Membaca sangat penting bagi kita, karena dengan membaca kita bisa memperoleh manfaat yang salah satunya dapat menambah pengetahuan kita. Untuk itu mari kita membaca, mambaca dan terus mambaca.



DAFTAR PUSTAKA

Nurhadi, Drs. 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Malang: Sinar Baru Algensindo
Leonhardt, Mary. 1999. 99 Cara menjadikan Anak Anda Keranjingan Membaca. Bandung: Kaifa
Adi susilo, Taufik. 2011. Belajar Calistung Itu Asyik. Yogyakarta: PT. Buku Kita
Puji santoso, dkk. 2009. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas terbuka.

Wardhani, I Gak, dkk.2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.