Senin, 15 Januari 2018

VALIDITAS TES

VALIDITAS TES

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran Bahasa Indonesia

Dosen Pengampu : Izhar, M.Pd.


Disusun oleh:
Kelompok 2
Prodi: Bahasa dan Sastra Indonesia

1.      ANA WAHYU KUSNIATI                   : 14040004
2.      DWI RUANDINI                                                : 14040016
3.      HENGKI IRAWAN                               : 14040011
4.      SENDI APRILIAWAN                         : 14040035

 











SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2016




KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

            Segala Puji bagi Allah yang telah memberikan Kami kemudahan sehingga Kami dapat menyelesaikan Makalah ini tepat pada waktu yang ditentukan. Tanpa pertolongan- Nya mungkin Penyusun tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik. Tidak lupa Sholawat serta Salam Senantiasa Tercurahkan Kepada Junjungan Kita Nabi Agung, Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari Zaman Jahiliah ke Zaman yang terang benderang ini.
Makalah ini memuat materi tentang “Validitas Tes”.
            Tidak lupa Kami mengucapkan Terimakasih Kepada Dosen Pengampu yang telah memngarahkan Kami dalam menyusun Makalah ini. Kami juga mengucapkan Terimakasih Kepada Teman-teman Mahasiswa yang juga sudah memberi Konstribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan makalah ini.
Semoga Makalah ini dapat memberikan Pengetahuan yang lebih luas kepada Pembaca. Penyusun membutuhkan Kritik dan saran dari Pembaca yang bersifat membangun, guna Terciptanya Makalah yang lebih baik di masa yang akan datang. Terimakasih.

Wassalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh.



                                                                                                Pringsewu, Maret 2016
                                                                                                            Penyusun


Kelompok 2





Daftar Isi

























BAB I
PENDAHULUAN

 1.1 Latar Belakang
Perkembangan konsep penilaian pendidikan yang ada pada saat ini menunjukkan arah yang lebih luas. Penilaian program pendidikan atau penilaian kurikulum menyangkut penilaian terhadap tujuan pendidikan, isi program, strategi pelaksanaan program dan sarana pendidikan. Penilaian proses belajar-mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan program belajar-mengajar. Sedangkan penilaian hasil hasil belajar menyangkut hasil belajar jangka pendek dan hasil belajar jang kapanjang. Dengan demikian, inti penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Proses pemberian nilai tersebut berlangsung, baik dalam bentuk validitas maupun reliabilitas. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa. Keberhasilan mengungkapkan hasil dan proses belajar siswa sebagaimana adanya (objektivitas hasil penilaian) sangat tergantung pada kualitas alat penilaiannya di samping pada cara pelaksanaannya. Berdasarkan beberapa data di atas serta dikaitkan dengan permasalahan yang kamiakan jelajahi, maka penulisan ini akan difokuskan pada pembahasan tentang “Validitas Tes’’. Agar dapat lebih memahami apa itu sebenarnya validitasdan reliabilitas serta lebih memahami bagaimana mengetahui suatu alat penilaian dikatakan mempunyai kualitas yang baik.









1.2. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan validitas tes dalam belajar?
2. Apa saja Macam-macam Validitas?
3. bagaimana Cara mengukur validitas ?
4. Faktor-Faktor apa saja yang Mempengaruhi Validitas?

1.3 Tujuan Pembahasan
1. sebagai salah satu tugas mata kuliah evaluasi pembelajaran
2. agar mengetahui apa yang dimasud dengan validitas tes
3. agar mengetahui macam-macam validitas
4. agar mengetahui bagaimana cara mengukur validitas
5.mengetahui factor-faktor apa saja yang dapat memengaruhi validitas













BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Pengertian Validitas
Validitas berasal dari kata ’’validity’’ yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukan pengukuran tersebut. Tes yang menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran dikatakan sebagai tes yang memiliki validitas rendah (Azwar, 1997).
Validitas adalah ketepatan interpretasi yang dibuat dari hasil pengukuran atau evaluasi, jadi jika data yang dihasilkan dari sebuah instrument valid, maka dapat dikatakan bahwa istrumen tersebut valid, karena dapat memberikan gambaran tetang data secara benar sesuai dengan kenyataan atau keadaan sesungguhnya jadi jika data yang dihasilkan oleh instrument benar atau valid, sesuai kenyataan, maka instrument yang digunakan tersebut juga valid.
Prinsip validitas adalah pengukuran atau pengamatan yang berarti prinsip keandalan instrumen dalam mengumpulkan data. Instrumen harus dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Jadi validitas lebih menekankan pada alat pengukuran atau pengamatan.
Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.
Terkandung di sini pengertian bahwa ketepatan pada validitas suatu alat ukur tergantung pada kemampuan alat ukur tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat. Suatu tes yang dimaksudkan untuk mengukur variabel A dan kemudian memberikan hasil pengukuran mengenai variabel A, dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki validitas tinggi. Suatu tes yang dimaksudkan mengukur variabel A akan tetapi menghasilkan data mengenai variabel A’ atau bahkan B, dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki validitas rendah untuk mengukur variabel A dan tinggi validitasnya untuk mengukur variabel A’ atau B (Azwar: 1997).


1.2 Macam-macam Validitas
Secara garis besar ada dua macam validitas, yaitu validitas logis dan validitas empiris.
a. validitas logis
istilah ’’validitas logis’’ mengandung kata ’’logis’’ berasal dari kata ’’logika’’ yang berarti penalaran. Dengan makna demikian maka validitas logis untuk sebuah instrumen evaluasi menunjuk pada kondisi bagi sebuah instrument yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid tersebut dipandang terpenuhi karena instrument yang bersangkutan sudah dirancang secara baik, mengikuti teori dan ketentuan yang ada. Sebagaimana pelaksanaan tugas lain misalnya membuat sebuah karangan, jika penulis sudah mengikuti aturan mengarang, tentu secara logis karangannya sudah baik. Dari penjelasan tersebut kita dapat memahami bahwa validitas logis dapat dicapai apabila instrument disusun mengikuti ketentuan yang ada. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa validitas logis tidak perlu diuji kondisinya tetapi langsung diperoleh sesudah instrument tersebut selesai disusun. Ada dua macam validitas logis yang dapat dicapai oleh sebuah instrument, yaitu: validitas isi dan validitas konstrak.
b. Validitas Empiris
istilah validitas empiris memuat kata empiris yang artinya pengalaman. Sebuah instrumen dapat dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah diuji dari pengalaman. Sebagai contoh sehari-hari, seseorang dapat diakui jujur oleh masyarakat apabila dalam pengalaman dibuktikan bahwa orang tersebut memang jujur. Contoh lain, seseorang dikatakan kreatif apabila dari pengalaman dibuktikan bahwa orang tersebut sudah banyak menghasilkan ide-ide baru yang diakui bebeda dari hal-hal yang sudah ada. Dari penjelasan contoh-contoh tersebut diketahui bahwa validitas empiris dapat diperoleh hanya dengan menyusun instrumen berdasarkan ketentuan seperti halnya validitas logis, tetapi harus dibuktikan melalui pengalaman. Ada dua macam validitas empiris, yakni validitas ada sekarang dan validitas prediksi.
Dari uraiaan diatas ada dua jenis validitas, yakni validitas logis yang ada dua macam, dan validitas empiris yang juga ada dua macam, maka secara keseluruhan kita mengenal adanya empat validitas, yaitu:
1) Validitas Isi (Content Validity)
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena materi yang diajarkan tertera dalam kurikulum maka validitas isi ini sering juga disebut validitas kurikuler. Validitas isi dapat diusahakan tercapainya sejak saat penyusunan dengan cara memerinci materi kurikulum atau materi buku pelajaran.
Misalnya: tes bidang studi IPS, harus mampu mengungkap isi bidang studi tersebut, pengukuran motivasi harus mampu mengukur seluruh aspek yang berkaitan dengan konsep motivasi, dan demikian juga untuk hal-hal lainnya. Menurut Kenneth Hopkin penentuan validitas isi terutama berkaitan dengan proses analisis logis, dengan dasar ini dia berpendapat bahwa validitas isi berbeda dengan validitas rupa yang kurang menggunakan analisis logis yang sistematis, lebih lanjut dia menyatakan bahwa sebuah instrumen yang punya validitas isi biasanya juga mempunyai validitas rupa, sedang keadaan sebaliknya belum tentu benar.
2)  Validitas konstruksi (Construct Validity)
Konstruk adalah kerangka dari suatu konsep, validitas konstruk adalah validitas yang berkaitan dengan kesanggupan suatu alat ukur dalam mengukur pengertian suatu konsep yang diukurnya. Sebuah tes dikatakan memeiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam tujuan instruksional khusus. Dengan kata lain jika butir-butir soal mengukur aspek berpikir tersebut sudah sesuai dengan aspek berpikir yang menjadi tujuan instrusional.
Contoh: siswa dapat membandingkan antara efek biologis dan efek psikologis, maka butir soal pada tes merupakan perintah agar siswa membedakan antara dua efek tersebut.
Konstruksi dalam pengertian ini bukanlah susunan seperti yang sering dijumpai dalam teknik, tetapi merupakan rekaan psikologis yaitu suatu rekaan yang dibuat oleh para ahli ilmu jiwa. Seperti halnya validitas isi, validitas konstruksi dapat diketahui dengan cara memerinci dan memasangkan setiap butir soal dengan setiap aspek dan tujuan instrusional khusus. Pengajarannya berdasarkan logika, bukan pengalamannya.
3) Validitas bandingan/ ’’ada sekarang’’ (Concurrent Validity)
Validitas ini lebih umum dikenal dengan validitas empiris. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris jika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Jika ada istilah ’’sesuai’’ tentu ada dua hal yang dipasangkan. Dalam hal ini hasil tes dipasangkan dengan hasil pengalaman. Pengalaman selalu mengenai hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada (ada sekarang).
Contoh: seorang guru ingin mengetahui apakah tes sumatif yang disusun sudah valid atau belum. Untuk ini diperlukan sebuah kriterium masa lalu yang sekarang datanya dimiliki. Misal nilai ulangan harian atau nilai sumatif yang lalu.
4) Validitas ramalan/ prediksi (Predictive validity)
Memprediksi artinya meramal, dengan meramal selalu menganai  hal yang akan datang yang belum terjadi. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi atau validitas ramalan apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
Misalanya tes masuk keperguruan tinggi adalah sebuah tes yang diperkirakan mampu meramalkan keberhasilan peserta tes dalam mengikuti kuliah dimasa yang akan datang. Calon yang tersaring berdasarkan hasil tes diharapkan mencerminkan tinggi rendahnya kemampuan mengikuti kuliah. Jika nilai tesnya tinggi tentu menjamin keberhsilannya kelak. Sebaliknya seorang calon dikatakan tidak lulus tes karena memiliki nilai tes yang rendah jadi diperkirakan akan tidak mampu mengikuti perkuliahan yang akan datang.
1.3 Cara mengukur validitas
Pekerjaan untuk mencari validitas suatu alat ukur disebut validation. Prinsip dari validation adalah membandingkan hasil-hasil dari pengukuran faktor dengan suatu kriterium, )suatu ukuran yang telah dipandang valid untuk menunjukkan faktor yang dimaksud). Jadi misalnya suatu alat pengukur hendak menyelidiki faktor ketelitian kerja, maka harus diambil lebih dahulu suatu kriterium yang telah dipandang mencerminkan suatu ketelitian kerja. Melalui kriterium itulah kemudian hasil dari pengukuran faktor ketelitian kerja disoroti, Jika hasil pengukuran faktor ketelitian kerja menunjukkan besarnya ketelitian kerja yang sesuai dengan kriterium, maka alat pengukur itu dipandang valid.
Ada dua jenis kriterium yang digunakan untuk menguji kejituan alat pengukur, yaitu :
a. Kriterium luar (external criterion)
Yaitu suatu kriterium yang diambil dari luar (external) alat itu sendiri. Misalnya : suatu tes tentang ketelitian kerja, diuji validitasnya dengan prestasi kerja yang sesungguhnya sebagaimana ditunjukkan oleh catatan-catatan hasil kerja atau penilaian pimpinan unit.
b. Kriterium dalam alat (internal criterion)
Yaitu suatu kriterium yang diambil dari dalam (internal)alat itu sendiri. Biasanya diambil hasil keseluruhan pengukuran atau total score sebagai kriteriumnya. Misalnya, kita ingin mengukur intelegensi (yang terdiri dari faktor-faktorl; daya analisa, daya klarifikasi, daya ingatan, daya pemahaman, daya kritik dan sebagainya), maka untuk menguji apakah sekelompk item benar-benar mengukur daya analisa, misalnya, jawaban-jawaban terhadap item daya analisa dicocokkan dengan hasil tes secara keseluruhan atau total score-nya. Antara nilai total harus terdapat korelasi yang positif (tinggi dan cukup meyakinkan). Kecocokkan antara hasil-hasil dari item yang disangka mengukur suatu faktor dengan suatu kriterium yang dipandang telah valid disebut factorial validity atau validitas faktor, di mana besar kecilnya validitas faktor tergantung kepada besar kecilnya kecocokan itu.
Validitas alat tes berkaitan dengan ketepatan dan kecermatan alat tes tersebut dalam melakukan fungsi tes atau fungsi ukurnya. Menurut buku Standards, yang ditulis oleh Asosiasi Psikolog Amerika (APA), validitas mengacu pada derajat dimana bukti dan teori menyokong interpretasi dari skor tes dan mengacu pada tujuan tes. Validitas adalah hal yang paling mendasar dalam pengembangan dan evaluasi tes. Proses validasi meliputi akumulasi, membuktikan tujuan dari evaluasi tersebut, bukan terhadap test itu sendiri. Pada alat tes biasanya validitas akan dihitung secara statistik dan dalam bentuk rumusan angka.
1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Validitas
Banyak faktor yang menyebabkan hasil asesmen tidak valid. Beberapa di antaranya tampak jelas dan mudah untuk menghindarinya. Tidak ada guru yang akan berpikir untuk mengukur pengetahuan biologi dengan asesmen matematika. Demikian pula juga tidak ada guru yang akan mengukur kemampuan memecahkan masalah (problem solving) biologi kelas 7 SMP dengan menggunakan asesmen yang didesain untuk kelas 12 SMA. Dalam dua contoh tersebut sudah sangat jelas hasil asesmen akan menjadi tidak valid.
Faktor yang mempengaruhi validitas tes antara lain:
a. Faktor dari dalam tes itu sendiri
Pengujian terhadap butir tes secara hati-hati akan menunjukkan apakah tes yang digunakan untuk mengukur isi materi atau fungsi -fungsi mental yang akan diakses oleh guru. Bagaimanapun juga, beberapa faktor berikut dapat menjaga butir tes dari fungsi yang dikehendaki dan dengan demikian juga terjaga dari rendahnya validitas hasil asesmen. Lima faktor yang pertama dapat diterapkan sejajar dengan asesmen penampilan siswa secara luas serta tes-tes tradisional. Lima faktor yang terakhir lebih diterapkan secara langsung terhadap tes pilihan dan tes dengan jawaban singkat dengan jawaban benar atau salah.
1.      Petunjuk yang tidak jelas. Petunjuk yang tidak jelas menyebabkan siswa kehilangan waktu untuk sekedar memahami petunjuk pengerjaan atau bahkan tidak dapat melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
2.      Penggunaan kosa kata dan struktur kalimat yang sulit. Penggunaan kosa kata atau struktur kalimat yang sulit dapat menyebabkan siswa terjebak untuk pemahaman terhadap pemahaman maksud dari sebuah pertanyaan bukan untuk menyelesaikan pertanyaan itu sendiri.
3.      Ambiguitas. Ambiguitas yaitu adanya kemungkinan multi tafsir juga menyebabkan menurunnya validitas sebuah tes.
4.      Alokasi waktu yang tidak cukup. Seyogyanya sebuah tes disediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan seluruh butir tes yang ada. Kekurangan waktu dalam menyelesaikan sebuah tes bisa jadi bukan karena siswa tidak mampu untuk menyelesaikan tesnya tetapi karena keterbatasan kesempatan untuk mengerjakannya.
5.      Penekanan yang berlebihan terhadap aspek tertentu, sehingga terlalu mudah ditebak kecenderungan dari jawaban soal akan menyebabkan menurunnya tingkat validitas soal.
6.      Kualitas butir tes yang tidak memadai untuk mengukur hasil belajar. Kualitas yang tidak memadai misalnya tes dimaksudkan untuk megukur kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking) jelas tidak cukup hanya digunakan tes yang bersifat untuk mengungkap pengetahuan faktual saja.
7.      Susunan tes yang jelek.
8.      Tes terlalu pendek.
9.      Penyusunan butir tes yang tidak runtut .
10.  Pola jawaban yang mudah ditebak, misalnya pada soal pilihan ganda jawabannya adalah A semua, atau B semua atau menunjukkan pola tertentu misalnya D, C, B, A, D, C, B, A, dan sebagainya.
b. Faktor administrasi dan skor
Pemberian skor terhadap jawaban siswa (testee) harus dilakukan secara hati-hati jangan sampai salah tulis atau meremehkan selisih angka walaupun hanya sedikit. Hal ini akan menyebabkan hasil pengujian terhadap validitas akan memberikan makna yang berbeda.
Berikut beberapa contoh faktor yang sumbernya yang berasal dari proses administrasi dan skor.
a.       Waktu pengerjaan tidak cukup sehingga siswa dalam memberikan jawaban dalam situasi yang tergesa – gesa.
b.      Adanya kecurangan dalam tes sehingga tidak bisa membedakan siswa yang belajar dengan yang melakukan kecurangan.
c.       Pemberian petunjuk dari pengawas yang tidak dapat dilakukan semua siswa.
d.      Teknik pemberian skor yang tidak konsisten, mislanya pada tes essay, juga dapat mengurangi validitas tes evaluasi.
e.       Siswa tidak dapat mengikuti arahan yang diberikan dalam tes baku.
f.       Adanya orang lain yang bukan siswa yang termasuk dan menjawab item tes yang diberikan.
c. Faktor tanggapan siswa
Seringkali terjadi bahwa interpretasi terhadap item – item tes evaluasi tidak valid, karna dipengaruhi oleh jawab siswa dari interpretasi item – item pada tes evaluasi. Sebagai contoh, sebuah tes para siswa menjadi tegang karena guru mata pelajaran tersebut “killer” galak dan sebagainya. Sehingga siswa yang mengikuti tes tersebut banyak yang gagal. Contoh lain, ketika siswa melakukan tes penampilan keterampilan, ruangan terlalu ramai atau gaduh sehingga siswa tidak dapat berkonsentrasi dengan baik. Ini semua dapat mengurangi nilai validitas instrumen evaluasi.
Tanggapan siswa yang tidak serius biasanya dijumpai pada saat siswa diminta untuk mengisi sebuah angket. Hal ini akan menyebabkan siswa mengisi angket secara sembarangan karena merasa tidak penting maupun alasan -alasan yang lain. Oleh karena itu berikan angket pada waktu dan kondisi yang tepat .
d. Hakikat kelompok dan criteria
Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa validitas bersifat spesifik. Sebuah asesmen atau instrumen alat ukur mungkin hanya valid untuk kelompok tertentu saja dan tidak valid untuk kelompok yang lain. Sebagai contoh misalnya sebuah tes diujicobakan pada sekelompok siswa pada sebuah sekolah dengan kualitas biasa –biasa saja tentu akan berbeda hasilnya jika tes yang sama diberikan pada sekelompok siswa pada sekolah yang favorit.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Sebuah tes dikatakan valid jika ia memang mengukur apa yang seharusnya diukur.
Ada 4 (empat) macam validitas yang berasal dari dasar pembagian jenis di atas yaitu :
a. Validitas Logis.
1. Validitas Isi (content validity).
2. Validitas Konstruksi (construct validity).
b. Validitas Empiris .
1. Valditas” ada sekarang” (concurrent validity).
2. Validitas ramalan (predictive validity).
Cara mengukur validitas, Melalui kriterium itulah kemudian hasil dari pengukuran faktor ketelitian kerja disoroti, Jika hasil pengukuran faktor ketelitian kerja menunjukkan besarnya ketelitian kerja yang sesuai dengan kriterium, maka alat pengukur itu dipandang valid.
Ada dua jenis kriterium yang digunakan untuk menguji kejituan alat pengukur, yaitu :
Yaitu suatu kriterium yang diambil dari luar (external) alat itu sendiri. Misalnya : suatu tes tentang ketelitian kerja, diuji validitasnya dengan prestasi kerja yang sesungguhnya sebagaimana ditunjukkan oleh catatan-catatan hasil kerja atau penilaian pimpinan unit.
Yaitu suatu kriterium yang diambil dari dalam (internal)alat itu sendiri. Biasanya diambil hasil keseluruhan pengukuran atau total score sebagai kriteriumnya.
Faktor yang mempengaruhi validitas tes antara lain:
a. Faktor dari dalam tes itu sendiri
b. Faktor administrasi dan skor
c. Faktor tanggapan siswa
d. Hakikat kelompok dan criteria



Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Amir Daien Indrakusuma. 1975. Evaluasi Pendididkan. Jilid I terbitan sendiri.
Saifuddin azwar. 1997. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Kamis, 28 Desember 2017

KONFLIK PSIKOLOGIS TOKOH UTAMA DALAM CERPEN ‘’MALAIKAT PENJAGA PEREMPUAN’’

KONFLIK PSIKOLOGIS TOKOH UTAMA
DALAM CERPEN ‘’MALAIKAT PENJAGA PEREMPUAN’’

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Kajian Prosa Fiksi


Dosen Pengampu      : Dra. Ani Diana, M.Hum.


Disusun Oleh:

1.      Ana Wahyu Kusniati            NPM   14040004
2


 



















SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2015



KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum w. w.

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Makalah ini tersusun dengan judul “Konflik Batin Tokoh Utama dalam Cerpen malaikan penjaga permpuan Karya Rina ratih’’.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas semester ganjil mata kuliah kajian prosa fiksi pada Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu pendidikan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Meskipun makalah ini disusun dengan segala kemampuan yang ada, namun demikian penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Hal ini disebabkan karena kemampuan dan terbatasnya pengetahuan dari penulis, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan penulis dari semua pihak demi kebaikan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak akan dapat terselesaikan tanpa adanya bantuan dan pengarahan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Disamping itu penulis juga menyampaikan terima kasih kepada bapak dan ibu yang telah memberikan dorongan.
Semoga penyusuanan makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan, terima kasih.Amin.
Wassalamu’alaikum w. w.




Pringsewu , 17 Desember  2015




Penyusun



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................   i
KATA PENGANTAR................................................................................   ii
DAFTAR ISI...............................................................................................   iii

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ..........................................................................  
B.     Rumusan Masalah......................................................................  
C.     Tujuan........................................................................................  

BAB II PEMBAHASAN
A.           
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ...............................................................................

DAFTAR PUSTAKA















A.    Latar Belakang

Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya, dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia dan segala macam kehidupannya, maka ia tidak saja merupakan suatu media untuk menyampaikan ide, teori atau sistem berpikir tetapi juga merupakan media untuk menampung ide, teori serta sistem berpikir manusia. Sebagai karya kreatif, sastra harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia, di samping sastra harus mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan umat manusia  (Semi, 1993:8).
Setiap manusia merupakan individu yang berbeda dengan individu lainnya. Ia mempunyai watak, temperamen, pengalaman, pandangan dan perasaan sendiri yang berbeda dengan lainnya. Namun demikian, manusia hidup tidak lepas dari manusia lain. Pertemuan antarmanusia yang satu dengan manusia yang lain tidak jarang menimbulkan konflik, baik konflik antara individu, kelompok maupun anggota kelompok serta antara anggota kelompok yang satu dan anggota kelompok lain. Dengan kata lain, manusia selalu dihadapkan pada persoalan persoalan hidup. Manusia dalam menghadapi persoalan hidupnya tidak terlepas dari jiwa manusia itu sendiri.Jiwa di sini meliputi pemikiran, pengetahuan, tanggapan, khalayak dan jiwa itu sendiri (Walgito, 1997:7).
Kejadian atau peristiwa yang terdapat dalam karya sastra dihidupkan oleh tokoh-tokoh sebagai pemegang peran atau pelaku alur. Melalui perilaku tokoh-tokoh yang ditampilkan inilah seorang pengarang melukiskan kehidupan manusia dengan problem-problem atau konflik-konflik yang dihadapinya, baik konflik dengan orang lain, konflik dengan lingkungan, maupun konflik dengan dirinya sendiri.
Dengan kenyataan tersebut, karya sastra selalu terlibat dalam segala aspek hidup dan kehidupan, tidak terkecuali ilmu jiwa atau psikologi. Hal ini tidak terlepas dari pandangan dualisme yang menyatakan bahwa manusia pada dasarnya terdiri atasjiwa dan raga. Maka penelitian yang meggunakan pendekatan psikologi terhadap karya sastra merupakan bentuk pemahaman dan penafsiran karya sastra dari sisi psikologi. Alasan ini didorong karena tokoh-tokoh dalam karya sastra dimanusiakan, mereka semua diberi jiwa, mempunyai raga bahkan untuk manusia yang disebut pengarang mungkin memiliki penjiwaan yang lebih bila dibandingkan dengan manusia lainnya terutama dalam hal penghayatan megenai hidup dan kehidupan (Hardjana, 1985:60).
A.    RumusanMasalah
            Berdasarkan latar belakang di atas, makalah yang berjudul “ Aalisis Puisi Berdasarkan Pendekatan Struktural, secara lebih terinci rumusan masalah tersebut di fokuskan pada pokok masalah dan dijabarkan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa pengertian pesikologi dalam sastra?
2. Apa arti dari analisis puisi?
3. Apa hasil dari menganalisis puisi berdasarkan pendekatan struktural ?
    (yang dalam hal ini adalah menganalisisi sajak Amir Hamzah dan Chairil Anwar).

B.     Tujuan
            Tujuan penulisan dan penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui dan mengenal secara mendetail serta universal dalam Analisis Puisi Berdasarkan Pendekatan Struktural.Tujuan dalam pembahasan ini adalah untuk mendiskripsikan secara objektif tentang “ Analisis Puisi Berdasarkan Pendekatan Struktural “















1.      sikologi dalam Sastra

a.       Pengertian Psikologi Sastra
Walgito (2004:l) menjelaskan  bahwa, ditinjau dari segi bahasa,  psikologi berasal dari kata psyche yang berati Jiwa'dan  logos berarti 'ilmu' atau 'ilmu pengetahuan',  karena  itu psikologis sering diartikan dengan  ilrnu pengetahuan  tentang jiwa.  psikologi merupakan ilmu yang  mempelajari dan menyelidiki  aktivitas  dan tingkah laku manusia. Aktivitas dan tingkah  laku tersebut merupakan manifestasi kehidupan jiwanya. Jadi, jiwa  manusia  terdiri dari dua alam, yaitu alam sadar (kesadaran)  dan alam tak sadar  (ketidaksadaran).  Kedua alam tidak hanya saling  menyesuaikan,  alam sadar  menyesuaikan terhadap dunia  luar, sedangkan alam tak sadar penyesuaiannya  terhadap dunia dalam. Jadi psikologi dapat diartikan sebagai  ilmu yang  mempelajari gejala jiwa yang mencakup  segala aktivitas dan tingkah laku manusia.
Psikologi sastra adalah  kajian sastra yang memandang  karya sebagai aktivitas kejiwaan.  Pengarang  akan menggunakan cipta rasa, dan karsa dalam berkarya. Pembaca dalam  menanggapi  karya tidak lepas dari kejiwaan masing-masing.  Psikologi sastra juga  mengenal  karya sastra sebagai pantulan kejiwaan. Pengarang akan menangkap  gejala jiwa, kemudian  diolah ke dalam teks dan dilengkapi  dengan  kejiwaannya. Proyeksi pengalaman  sendiri dan  pengalaman hidup di sekitar pengarang akan terproyeksi  secara imajiner ke dalam teks sastra (Endraswara,  2008:96).
Sebagaimana  dijelaskan  Ratna (2009 : 3 50) bahwa,
psikologi sastra  adalah  analisis teks dengan  mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologis.  Dengan memusatkan perhatian  pada tokoh-tokoh  maka akan dapat dianalisis konflik batin yang mungkin saja  bertentangan dengan teori psikologis. Dalam hubungan  itulah peneliti harus menemukan  gejala yang tersembunyi atau sengaja  disembunyikan oleh pengarangnya,  yaitu dengan  memanfaatkan teori-teori  psikologi yang dianggap  relevan.
Pada dasarnya  kajian psikologi sudah banyak diterapkan  oleh pengarang  sejak dulu, namun terkadang pengarang  dengan  sengaja tidak memunculkan gejala-gejala  psikologi secara terang-terangan.  Berdasarkan kutipan di atas dapat  disimpulkan  bahwa pendekatan  psikologi pada karya sastra memusatkan  perhatian  pada tokoh-tokoh, dari tokoh-tokoh  tersebut maka akan ditemukan adanya konflik batin di dalamnya. Oleh karena itu, pendekatan psikologi sastra sangat diperlukan  untuk menganalisis  dan menemukan  gejala-gejala  yang tidak terlihat atau  bahkan dengan sengaja disembunyikan  oleh pengarang  pada karya sastra.
Selanjutnya Semi (1989:46) menjelaskan  bahwa "pendekatan psikologi adalah pendekatan penelaahan  sastra yang  menekankan  pada segi-segi  psikologis  yang terdapat dalam suatu  karya sastra."  Pendekatan psikologi yang menekankan  pada segi-segi  psikologi  mendapat  perhatian dalam penelaahan  dan penelitian sastra disebabkan  oleh timbulnya kesadaran  bagi para pengarang, yang dengan sendirinya juga bagi kritikus sastra,  bahwa  perkembangan  dan kemajuan  masyarakat  di zaman  moder ini tidaklah semata-mata  dapat  diukur dari segi  material, tetapi juga dari segi rohaniah  atau  kejiwaan.
Istilah "psikologi sastra" mempunyai empat kemungkinan pengertian.Pertama, studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi.  Kedua, studi  proses kreatif. Ketiga, studi dan tipe dan hukum-hukum psikologi  yang diterapkan  pada karya sastra dan yang  keempat, mempelajari dampak  sastra  pada pembaca  (psikologi pembaca). Pada penelitian ini pengertian yang  ketigalah yang digunakan untuk menganalisis  karya sastra (Rene wellek dan Austin Waren terjemahan Melani Budianta,  1989: 90).
Asumsi  dasar penelitian psikologi  sastra antara lain dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, adanya  anggapan  bahwa  karya sastra merupakan produk dari suatu  kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berbeda  pada situasi setengah sadar atau subconscious self dan baru dituangkan  ke dalam  bentuk secara  sadar  (conscious). Antara sadar  dan tak sadar  selalu mewarnai dalam proses  imajinasi  pengarang.  Kekuatan  karya sastra  dapat dilihat seberapa jauh  pengarang mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaan yang tidak sadar itu ke dalam sebuah  cipta sastra.
Kedua, kajian psikologi sasta di samping  meneliti perwatakan tokoh secara  psikologis juga aspek-aspek  pemikiran  dan perasaan pengarang ketika menciptakan  karya tersebut.  Pengarang mampu menggambarkan  perwatakan tokoh sehingga  menjadi semakin  hidup. Sentuhan-sentuhan   emosi melalui dialog atau  pemilihan kata, sebenarnya merupakan  gambaran kekalutan dan kejernihan  batin pencipta. Kejujuran batin itulah yang menyebabkan  orisinalitas karya (Suwardi Endraswara, 2008:96).
Sastra berbeda dengan  psikologi, sebab sebagaimana sudah kita pahami sasta berhubungan  dengan  dunia fiksi, drama,  puisi, esai yang diklasifikasikan  ke dalam seni, sedang  psikologi merujuk kepada studi ilmiah tentang  perilaku  manusia dan proses mental. Meski berbeda keduanya  memiliki titik temu atau kesamaan yakni keduanya berangkat dari manusia  dan kehidupan sebagai sumber kejadian.  Bicara tentang manusia, psikologi jelas  terlibat erat, karena psikologi  mempelajari perilaku-perilaku manusia tidak lepas dari aspek kehidupan yang membungkusnya dan mewamai  perilakunya  (Siswantoro, 2005:29).
Penelitian psikologi sastra  memang  memiliki  landasan pijak yang kokoh. Karena, baik sastra  maupun  psikologi sama-sama mempelajari kehidupan manusia.  Bedanya kalau sastra mempelajari  manusia sebagai ciptaan  imajinasi pengarang,  sedangkan  psikologi mempelajari manusia sebagai ciptaan Illahi secara  riil.